Juni 6, 2026

kabarmetronews.com

Selalu Ada & Terpercaya

Satgas MBG Bangkalan Soroti Rentang Waktu Pengolahan dan Standar IPAL dalam Kasus Dugaan Keracunan MBG di Kokop

Bangkalan | Kabarmetronews.com – Kepala Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Bangkalan, Bambang Budi Mustika, menduga insiden yang menimpa 84 siswa di Kecamatan Kokop berkaitan dengan rentang waktu pengolahan makanan yang terlalu panjang.

MBG yang dikonsumsi siswa dilaporkan telah dimasak sejak malam hari sebelum distribusi keesokan harinya.

Bambang menjelaskan, makanan yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kokop Dupok 1 telah diolah sejak pukul 23.00 WIB. Waktu produksi tersebut dinilai terlalu dini untuk makanan yang baru dikonsumsi pada siang hari berikutnya.

“Saya khawatir pada aspek bumbunya. Saya tanyakan, dapur itu memasaknya sekitar pukul 11.00 malam sampai 12.00 malam. Jadi jika dikonsumsi pukul 10.00 siang, itu saja sudah melebihi batas waktu aman,” ucapnya, Jumat (5 /62026).

SPPG Kokop Dupok 1 tercatat menyalurkan MBG untuk 3.732 penerima manfaat. Menu yang disajikan pada kejadian tersebut meliputi nasi putih, sate ayam, acar timun wortel, tempe, dan semangka.

Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa penyebab utama gejala yang dialami 84 siswa belum dapat dipastikan. Diperlukan pengujian laboratorium untuk mengidentifikasi kandungan dan potensi kontaminan pada makanan yang dikonsumsi.

“Belum bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab utama. Sebab, perlu pengujian laboratorium untuk memastikan kandungan makanan yang disantap siswa,” tambahnya.

Selain persoalan rentang waktu pengolahan, Satgas MBG Bangkalan turut menyoroti kondisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di SPPG Kokop Dupok 1 yang masih menggunakan standar lama dan belum diperbarui.

“Ada IPAL, hanya saja IPAL-nya masih pakai standar lama. Hari ini IPAL standar baru sudah datang,” ungkap Bambang.

Sebelumnya, sebanyak 21 siswa SMAN 1 Kokop dilarikan ke Puskesmas setelah mengalami gejala pusing dan muntah pasca konsumsi MBG. Tidak lama berselang, siswa dari sekolah lain yang menerima pasokan dari dapur yang sama turut menunjukkan gejala serupa.

Hingga saat ini, masih terdapat 12 siswa yang menjalani rawat inap di Puskesmas. Kondisi 12 siswa tersebut dilaporkan lebih berat dibandingkan 72 siswa lain yang telah pulih dan diperbolehkan pulang.

Penulis : Arif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *