Meneladani Petuah Mbah Hamid Pasuruan: Antara Penampilan, Harga Diri, dan Mentalitas Kemajuan
Surabaya | Kabarmetronews.com – Petuah KH Abdul Hamid Pasuruan, ulama kharismatik Jawa Timur yang akrab disapa Mbah Hamid, kembali menjadi bahan refleksi publik. Salah satu nasihatnya yang kerap dikutip berbunyi: Pakailah baju yang bagus, agar orang-orang menyangka kamu kaya, dan persangkaan mereka itu menjadi doa.
Ungkapan singkat tersebut memantik diskursus multidimensi. Pada tataran literal, petuah ini dapat dibaca sebagai anjuran menjaga penampilan.
Namun dalam perspektif sosial-spiritual, pesan Mbah Hamid lebih dekat pada pembentukan mentalitas optimistis, harga diri, dan etos kerja positif, bukan ajakan hedonistik.
Dalam kajian akhlak Islam, kerapian dan kebersihan merupakan manifestasi syukur atas nikmat Tuhan sekaligus bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan sesama. Islam menolak mentalitas sengaja menampilkan citra kumuh. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan” [HR. Muslim].
Para ulama menjelaskan, tampil rapi, bersih, dan pantas merupakan bagian dari menjaga marwah personal. Ini bukan soal harga pakaian, melainkan soal adab. Penampilan yang terawat mencerminkan kedisiplinan, rasa hormat pada majelis, serta kesiapan mental menghadapi ruang publik.
“Petuah Mbah Hamid bukan mendorong pamer. Inti pesannya adalah: hargai dirimu sebagai hamba Allah. Ketika kita merawat diri, kita sedang mempraktikkan syukur. Syukur itu sendiri membuka pintu keberkahan,” demikian penegasan sejumlah pengamat keagamaan.
Frasa “agar orang-orang menyangka kamu kaya, dan persangkaan mereka itu menjadi doa” dapat dibaca sebagai teknik psikologis-spiritual. Doa baik dari orang lain memiliki kekuatan sosial.
Dalam sosiologi, self-fulfilling prophecy atau ramalan yang terpenuhi sendiri bekerja ketika persepsi positif orang lain memotivasi individu untuk bertindak lebih baik.
Di tengah persaingan kerja, usaha, dan relasi sosial modern, kesan profesional dan terawat sering menjadi modal awal kepercayaan. Penampilan bukan segalanya, tetapi ia menjadi pintu yang memperluas akses terhadap peluang kolaborasi dan kerja sama.
Namun para cendekiawan mengingatkan: optimisme harus berpasangan dengan substansi. Penampilan tanpa integritas, etos kerja, dan kontribusi sosial akan kosong. Kemuliaan dalam Islam tetap diukur dari takwa, akhlak, dan manfaat bagi sesama, bukan dari label harga baju.
Petuah Mbah Hamid relevan sebagai koreksi terhadap dua ekstrem: mentalitas rendah diri yang menolak kemajuan, dan mentalitas konsumerisme yang terjebak pada pamer status. Jalan tengahnya adalah ihsan: berbuat baik dan terbaik dalam segala hal, termasuk merawat diri.
Relevansi praktisnya:
1. Bagi pencari kerja/mahasiswa: Kerapian menjadi bahasa non-verbal pertama yang membangun kredibilitas.
2. Bagi pelaku usaha: Penampilan profesional meningkatkan trust publik.
3. Bagi masyarakat umum: Merawat diri adalah bentuk jihad kecil melawan rasa minder, sehingga lebih berani berkontribusi.
Intisari petuah Mbah Hamid Pasuruan adalah menggeser mindset dari apa adanya saja menuju sebaik-baiknya sesuai kemampuan.
Kerapian bukanlah kesombongan, melainkan adab. Ia adalah penghormatan pada diri sendiri dan wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
Ketika penampilan baik dipadukan dengan akhlak mulia, etos kerja, dan semangat memberi manfaat, maka persangkaan orang yang menjadi doa itu akan menjelma menjadi realitas kemajuan.
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”_ [QS. Ar-Ra’d: 11].
Penulis : Arif