Makna Hari Kartini di Era Modern
Bangkalan | Kabarmetronews.com – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Sosok Raden Ajeng Kartini telah menjadi simbol perempuan, pelopor pendidikan bagi kaum wanita di masa penjajahan.
Tapi di tengah hiruk-pikuk era modern, dari tuntutan karier hingga derasnya arus media sosial, makna Hari Kartini pun perlu kita renungkan ulang.
Kartini hidup di masa ketika akses perempuan terhadap pendidikan sangat terbatas. Namun lewat surat-surat kepada sahabat pena di Belanda, ia menyalakan obor pemikiran yang melampaui zamannya.
“Apakah guna pendidikan itu jika tidak membangkitkan keberanian dan kemerdekaan berpikir?” – Kartini, surat kepada Stella (25 Mei 1899)
Bagi Kartini, pendidikan bukan hanya soal sekolah, tapi soal keberanian menjadi manusia utuh. Ia tidak hanya memimpikan perempuan yang cerdas, tetapi juga berdaya, mandiri dan mampu memilih jalannya sendiri.
Kini, lebih dari seratus tahun sejak Kartini menulis surat-suratnya, perempuan Indonesia telah banyak melangkah maju. Menjadi menter, ilmuan aktivis, pengusaha bahkan ibu rumah tangga sekaligus pengatur keuangan keluarga. Namun, tantangan baru pun muncul. Tekanan sosial, standar kecantikan yang kaku dan beban ganda yang seolah tdak pernah tuntas.
“Kami kaum perempuan tidak ingin dijadikan boneka hidup, kami ingin berdiri sendiri.” – Kartini, surat kepada Abendon (6 November 1899)
Kutipan ini tetap terasa relevan di masa kini, ketika perempuan masih sering dibatasi oleh ekspektasi sosial yang kaku. Semangat Kartini justru makin dibutuhkan, agar perempuan tidak sekedar “mampu” tapi juga merdeka secara batin.
Merayakan Hari Kartini tidak harus dengan memakai kebaya atau mengadakan lomba memasak. Meski itu bagian dari budaya yang perlu dijaga, semangat Kartini bisa diwujudkan dalam banyak bentuk lain:
1. Memberi ruang bagi perempuan untuk menyuarakan pendapat tanpa takut direndahkan
2. Mendukung perempuan sekitar kita, bukan menghakimi pilihannya
3. Mendorong anak-anak perempuan untuk bisa bermimpi besar dan berpikir kritis.
“Hal yang paling saya inginkan adalah melihat perempuan menjadi manusia.” – Kartini, surat kepada Estelle Zeehandelaar (4 Oktober 1901)
Kartini tidak meminta kekuasaan. Ia hanya ingin perempuan dipandang sebagai manusia seutuhnya yang bisa berpikir, memilih dan bertindak berdasarkan nuraninya sendiri.
Raden Ajeng Kartini bukan sekedar tokoh masa lalu. Ia adalah ide yang hidup. Tentang keberanian berpikir, keberanian bermimpi dan keberanian menjadi diri sendiri.
Di zaman yang serba cepat dan kompleks ini, semangat Kartini justru semakin penting, agar kita tidak sekedar mengikuti arus, tapi menjadi pribadi yang punya arah dan nilai. (Arif).