Tradisi Toron Jelang Idul Adha 1447 H, Arus Mudik ke Madura Mulai Padati Suramadu
Bangkalan | Kabarmetronews.com – Tradisi toron atau mudik menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kembali mewarnai arus lalu lintas menuju Pulau Madura. H-1 Idul Adha, Selasa (26/05/26).
Ratusan kendaraan roda dua maupun roda empat tampak memadati akses Jembatan Suramadu dari arah Surabaya menuju empat kabupaten di Madura.
Meski volume kendaraan meningkat sejak pagi, arus lalu lintas terpantau tetap lancar dan belum menimbulkan kemacetan berarti.
Salah seorang pemudik, Husen, 45 tahun, mengaku rela menempuh perjalanan jauh demi bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halamannya di Desa Robatal, Kabupaten Sampang. Pria yang sehari-hari berjualan soto Madura di Mojokerto itu memilih pulang menggunakan sepeda motor
“Perjalanan dari Mojokerto ke Sampang memang jauh, tapi rasa capek kalah sama keinginan berkumpul dengan keluarga,” kata Husen saat beristirahat di sisi Madura Jembatan Suramadu.
Menurut dia, mayoritas perantau yang bekerja di luar Surabaya memilih mudik sejak pagi hari. Sementara warga Madura yang bekerja di Surabaya biasanya baru bertolak menjelang sore setelah menyelesaikan aktivitas kerja.
“Kalau yang kerja di Surabaya biasanya toron sore hari, apalagi yang tujuan mudiknya dekat seperti Bangkalan,” ujarnya.
Pemudik lainnya, Asmat, 36 tahun, juga memilih pulang kampung ke Desa Lomair Barat, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan. Pedagang sate dan gule di Pasuruan itu mengaku mudik sekaligus untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga besar.
“Tahun ini saya patungan dengan lima keluarga untuk kurban seekor sapi di kampung,” katanya sambil tersenyum.
Budayawan Bangkalan, Irfan, menilai tradisi toron masih menjadi bagian kuat dari budaya masyarakat Madura. Menurut dia, tradisi pulang kampung tidak hanya dilakukan saat Idul Fitri, tetapi juga pada momentum penting lain seperti Idul Adha, Maulid Nabi Muhammad SAW, hingga acara pernikahan keluarga.
“Sesibuk apa pun, orang Madura akan berusaha pulang kampung meski hanya sehari. Yang penting bisa berkumpul dengan keluarga,” pungkasnya.
Ia menambahkan, tradisi toron telah diwariskan secara turun-temurun dan diyakini akan terus dijaga oleh masyarakat Madura di berbagai perantauan.
Penulis : Arif