Februari 1, 2026

kabarmetronews.com

Selalu Ada & Terpercaya

Merasa tidak Lakukan Penganiayaan, Anam: Sah-sah Saja Setiap Masyarakat Beropini

Bangkalan | Kabarmetronews.com – Ditengah derasnya arus informasi digital, satu pemberitaan dapat dengan cepat membentuk persepsi publik bahkan sebelum fakta diuji secara menyeluruh.

Hal itulah yang dirasakan Anam, saat menanggapi tuduhan atas konten berita yang dinilai tidak cover bothside dan cenderung menyudutkan dirinya.

Dengan nada tenang, Anam menegaskan bahwa dirinya tidak merasa pernah melakukan penganiayaan sebagaimana opini yang berkembang di ruang publik.

Namun, ia juga menekankan bahwa perbedaan pandangan adalah hak setiap warga negara yang dijamin dalam demokrasi.

“Saya tidak merasa melakukan penganiayaan ya, tapi tetap sah hak setiap warga untuk beropini,” ujar Anam, Minggu (1/2/2026).

Meski demikian, yang menjadi keprihatinannya bukan semata pada opini publik, melainkan pada proses jurnalistik yang dinilainya mengabaikan prinsip dasar konfirmasi dan klarifikasi.

Menurut Anam, pemberitaan tersebut diterbitkan tanpa upaya meminta keterangan dari pihak terkait, sehingga narasi yang muncul menjadi timpang dan berpotensi merugikan.

“Yang kami sayangkan, wartawan media tersebut tidak melakukan klarifikasi dan konfirmasi sebelum menerbitkan konten berita. Apalagi sajian di dalamnya tanpa keterangan konfirmasi dari pihak terkait, sehingga menimbulkan opini publik yang merugikan,” terangnya.

Bagi Anam, pers memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar publik. Ketika satu sisi cerita diangkat tanpa keseimbangan, maka yang lahir bukan lagi informasi, melainkan penghakiman sosial. Di titik inilah, menurutnya, etika jurnalistik seharusnya menjadi kompas utama, bukan sekadar kecepatan tayang atau sensasi judul.

Ia berharap, ke depan, media tetap menjalankan fungsinya sebagai pilar demokrasi yang adil dan berimbang, dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta prinsip check and recheck.

Sebab bagi Anam, kepercayaan publik terhadap pers dibangun bukan dari keberanian menulis, melainkan dari kejujuran dalam menggali fakta.

Dalam suasana yang kerap panas oleh opini dan narasi sepihak, suara seperti Anam mengingatkan bahwa di balik setiap berita, ada manusia yang berhak didengar secara utuh bukan sepotong-sepotong.

“Wartawannya itu sampai saat ini tidak ada yang konfirmasi ke saya. Padahal, yang dituduh saya sebagai pelaku penganiayaan, harusnya konfirmasi dong, minta klarifikasi maksudnya gitu. Sampai saat tidak ada konfirmasi ke saya,” pungkasnya. (Arif).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *