Operasi Patuh Semeru 2025, Polres Bangkalan Tindak 604 Pelanggar Lalu Lintas dalam Sepekan
Bangkalan | Kabarmetronews.com – Kepolisian Resor (Polres) Bangkalan mencatat sebanyak 604 pelanggar lalu lintas telah ditindak selama sepekan pelaksanaan Operasi Patuh Semeru 2025. Operasi ini telah digelar sejak 14 Juli 2025 dan akan berlangsung hingga 27 Juli 2025 mendatang.
Kasatlantas Polres Bangkalan, AKP I Gusti Bagus Krisna Fuady, mengungkapkan bahwa seluruh pelanggaran yang tercatat hingga hari ketujuh telah dikenai sanksi tilang.
Ia juga menyampaikan bahwa jenis pelanggaran yang paling dominan mencakup pelanggaran umum dan mendasar yang seharusnya bisa dihindari dengan disiplin.
“Dalam kurun waktu tujuh hari ini, kami telah menindak 604 pelanggaran lalu lintas,” ujar AKP I Gusti Bagus, Rabu (21/07/2025).
Beberapa pelanggaran yang paling banyak ditemukan antara lain pengendara yang tidak menggunakan helm Standar Nasional Indonesia (SNI), pengemudi yang tidak memakai sabuk pengaman, pengendara tanpa kelengkapan surat kendaraan, pelanggaran terhadap marka jalan atau rambu lalu lintas, pengendara di bawah umur, serta kendaraan dengan pelat nomor tidak sesuai atau tidak terpasang.
“Ini masih berjalan satu pekan, kita masih punya satu pekan lagi untuk melaksanakan Operasi Patuh Semeru,” tambahnya.
AKP Gusti Bagus juga mengimbau masyarakat Bangkalan untuk lebih disiplin dalam mematuhi aturan lalu lintas demi keselamatan bersama. Menurutnya, kepatuhan terhadap peraturan di jalan bukan hanya saat operasi berlangsung, melainkan harus menjadi kebiasaan sehari-hari.
“Tolong diikuti aturannya. Pada jalur-jalur arteri maupun nasional juga ditolong ditaati,” imbaunya.
Lebih lanjut, ia berharap pelaksanaan Operasi Patuh Semeru ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan di jalan serta menurunkan angka pelanggaran dan kecelakaan di wilayah Kabupaten Bangkalan.
“Kami harap masyarakat tetap mematuhi aturan lalu lintas meskipun Operasi Patuh Semeru 2025 nanti berakhir. Jadikan kesadaran dan kedisiplinan berlalu lintas sebagai bagian dari budaya sehari-hari, bukan hanya saat operasi berlangsung,” pungkasnya. (Arif).
