Sekretaris IIFES Kecam Polres Bangkalan Lakukan Tindakan Refresif saat Amankan Demo

Bangkalan | Kabarmetronews.com – Sekretaris Indonesian Institute For Indonesian Studies (IIFES), menyayangkan Polres Bangkalan atas kekerasan yang dilakukan oleh anggota kepolisian terhadap masa aksi demo dari kader HMI Cabang Bangkalan pada hari Rabu (30/04/25).
Tindakan yang dinilai represif tersebut mendapatkan atensi dari aktivis lingkungan hidup pasalnya aparat kepolisian resort Bangkalan dinilai tidak profesional dalam menjalankan tugas dan kurang komunikasi terhadap anggotanya, sehingga melakukan tindakan premanisme dalam menghadapi massa aksi mahasiswa.
Perlu diketahui dalam menyampaikan aspirasi di depan Kantor Polres Bangkalan oleh adik-adik Mahasiswa ini merupakan puncak kemarahan masyarakat dan pemuda kabupaten setempat atas praktek pencurian dan perampokan yang merajalela mulai dari perkotaan sampai pedalaman desa.
Nurul Rahman sebagai pegiat lingkungan hidup menilai fenomena yang terjadi memperlihatkan mindset atau pola pikir kepolisian sangat jauh dari kata melayani, melindungi serta mengayomi seakan mereka mengkhianati tugas dan fungsi utama dari kepolisian Republik Indonesia (POLRI) yaitu memelihara keamanan dan ketertiban serta menyelesaikan perselisihan, Justru malah mereka yang memberi persolan dan perselisihan sehingga memakan korban luka-luka terhadap mahasiswa.
Berbagai video di media sosial memperlihatkan aparat kepolisian memperlakukan massa aksi mahasiswa dengan jenjotan dan kekuatan otot menggunakan perisai untuk mendorong dan memojokkan para demonstran sehingga mereka kewalahan.
Bukankah di Negara demokrasi ini menyampaikan aspirasi di depan publik dilindungi oleh Undang-undang dan kita sebagai pemuda harus paham hal tersebut karena itu buah dari kemerdekaan.
Wajarlah kalau dulu dilarang dan di persekusi oleh pemerintah, kalau sekarang tidak demikian apa lagi kita sebagai pemuda sudah merasakan nikmatnya kemerdekaan harus memiliki utang besar kepada negara ini untuk menjadi pemuda yang selalu hadir didepan untuk memperjuangkan umat dan bangsa.
Sehingga masyarakat merasakan aman dan tentram dalam menjalani kehidupan sehari-hari bahkan bisa mencari nafkah serta memenuhi tuntutan negara seperti bayar pajak dan seterusnya.
Yang jelas dari semua fenomena yang memakan tiga korban Mahasiswa itu sangat disayangkan anarkisme dan arogansi anggota Polres Bangkalan sangat memalukan.
Kecenderungan untuk membela anggotanya dengan dalih pengamanan situasi atau Prosedur Operasional Standart (SOP) itu hanya alibi untuk pembenaran dan nampaknya kekerasan oleh oknum polisi dianggap hal yang lumrah dan wajar oleh institusi meskipun itu tentu tak bisa dibenarkan.
Fakta yang terjadi kekerasan oleh polisi terekam jelas, namun pertanggungjawaban terhadap Polri sepertinya tidak ada, oleh karena itu kami meminta Kapolres Bangkalan untuk meminta minta maaf secara terbuka kepada adik-adik yang memperjuangkan nasib rakyat lewat HMI Cabang bangkalan.
“Jangan sampai perilaku jelek dari pihak kepolisian itu terulang kembali, hargai dan ayomi karena sejatinya merekalah yang menggaji kalian sebagai pejabat negara khususnya Kepolisian Republik Indonesia,” katanya.
Diketahui, ada tiga korban luka-luka yang dialami HMI Cabang Bangkalan saat melakukan aksi demontrasi di depan Mapolres Bangkalan, yaitu Moh. Tafi, Syaiful dan M. Auqof Noer. (Arif)
Kontributor : Nurul Rahman Sekretaris Jendral Indonesian Institute For Indonesian Studies (IIPES)
