Cara Mengatur Minum Agar Ginjal Tetap Sehat Selama Puasa
Bangkalan | Kabarmetronews.com – Saat tubuh berhenti menerima asupan selama belasan jam, ginjal menjadi organ yang bekerja ekstra keras untuk menyaring racun di tengah keterbatasan cairan.
Pakar penyakit dalam konsultan ginjal-hipertensi lulusan Universitas Hasanuddin, dr Dina Nilasari, Ph.D, Sp.PD, KGH, membagikan cara agar fungsi filtrasi tubuh ini tetap terjaga tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah pada bulan Ramadhan.
Tantangan utama ginjal saat berpuasa adalah risiko kekurangan cairan atau dehidrasi. Ginjal membutuhkan air yang cukup untuk membuang limbah sisa metabolisme dari darah dalam bentuk urine. Ketika asupan cairan berkurang drastis selama belasan jam, ginjal harus bekerja lebih keras untuk memekatkan urine.
“Menjaga kesehatan ginjal selama bulan puasa itu dengan minum yang cukup. Tentunya pada saat sahur dan berbuka tidak boleh kita melewatkannya ya,” kata Dina di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Dina mengatakan rutin meminum air sebanyak 2 liter per hari atau setara dengan 8 gelas merupakan hal yang wajib dilakukan guna menghindari risiko terjadinya dehidrasi selama berpuasa.
Pemenuhan cairan dalam tubuh juga dapat dilakukan melalui konsumsi buah-buahan utuh seperti pisang maupun jus buah yang berserat ketika berbuka puasa.
Ia juga membeberkan meminum jus buah dengan serat akan membantu asupan gula yang masuk ke dalam tubuh secara perlahan.
“Jus usahakan jangan yang hanya air saja tapi dengan ampasnya. Karena yang hanya air saja itu juga gula, sama saja dengan kita meminum gula,” katanya.
Pola minum saat puasa
Senior Clinical Nutritionist dari Aster Hospitals di India, Aditi Prasad Apte, mengatakan perencanaan asupan air adalah pilar utama untuk menghindari kelelahan kronis dan sakit kepala selama Ramadhan.
“Berpuasa selama Ramadhan membutuhkan pengelolaan hidrasi yang tepat untuk menghindari dehidrasi, kelelahan, dan sakit kepala selama waktu iftar dan sahur,” ujarnya dikutip dari India Today.
Dia mengatakan minum dengan cara yang benar tidak hanya menjaga tingkat energi, tetapi juga mendukung sistem pencernaan dan mencegah masalah umum seperti pusing, kelemahan, hingga mulut kering yang mengganggu kenyamanan.
Berdasarkan pedoman kesehatan dunia (WHO) dan saran para ahli, orang dewasa memerlukan setidaknya 2 hingga 2,5 liter air, atau setara dengan 8 hingga 10 gelas dalam rentang waktu antara berbuka hingga sahur. Namun, dr Aditi mengingatkan agar air tersebut dikonsumsi dalam jumlah yang terkendali.
Berikut ini adalah tips hidrasi yang disarankan dengan pola minum secara konsisten:
1. Buka puasa
Awali dengan satu hingga dua gelas air putih hangat secara perlahan bersama beberapa butir kurma. Air hangat lebih ramah bagi lambung yang kosong dibandingkan air es yang bisa memicu kontraksi otot perut.
2. Masa transisi (buka puasa ke sahur)
Usahakan minum sekitar 150 ml (setengah gelas) setiap 30 hingga 60 menit. Pola ini membantu sel tubuh menyerap cairan lebih efektif tanpa membuangnya langsung melalui urine.
3. Penutup (sahur)
Tutup dengan dua hingga tiga gelas air putih. Ini adalah investasi terakhir sebelum tubuh memasuki masa “kekeringan” belasan jam ke depan.
Selain jumlah air, pilihan jenis minuman sangat menentukan kualitas hidrasi Anda. Dokter Aditi sangat menyarankan untuk menghindari minuman berkafein seperti teh pekat, kopi, dan soda, terutama saat sahur.
“Teh, kopi, dan kola bersifat diuretik, yang justru meningkatkan pembuangan cairan dari tubuh secara lebih cepat melalui urine,” ujarnya. (Arif).